Gejala tuna rungu bervariasi tergantung usia dan tingkat keparahan gangguan. Pada bayi, gejala dapat berupa tidak terkejut oleh suara keras atau tidak menoleh ke sumber suara. Anak-anak mungkin mengalami keterlambatan bicara atau kesulitan dalam mengikuti instruksi di sekolah.

Pada orang dewasa, gejala umumnya meliputi kesulitan mendengar percakapan di tempat ramai, sering meminta orang lain mengulang perkataan, volume TV atau radio yang terlalu tinggi, serta sulit memahami suara berbisik.
Diagnosis Penyakit Tuna Rungu
Diagnosis penyakit tuna rungu melibatkan serangkaian pemeriksaan oleh dokter spesialis THT. Pada bayi baru lahir, skrining pendengaran wajib dilakukan melalui tes OAE (Otoacoustic Emissions) atau BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry). Untuk anak-anak dan dewasa, tes audiometri nada murni, audiometri tutur, atau timpanometri dapat dilakukan untuk menentukan jenis dan tingkat keparahan gangguan pendengaran.
